Nasionalisme


Nasionalisme dalam Islam termasuk ashabiyah; yakni faham yang menomorsatukan kesamaan suku, ras, bangsa, di atas segala-galanya. Bahkan benar-salah, mulia-nista, baik-buruk sepenuhnya tunduk pada kepentingan dan penafsiran nasionalisme. Sedangkan Islam menuntut kebenaran dan loyalitas hanya ada pada Allah dan Rasul-Nya semata.

Dulu di Madinah Bani Aus dan Khazraj berabad-abad berperang atas dasar ashabiyah ini, kemudian melebur dan menyatu dalam pangkuan Islam. Setelah masuk Islam, Bani Aus dan Khazraj pernah hampir berperang lagi karena hasutan Yahudi. Tapi tersadar setelah diingatkan Nabi saw tentang bahaya ashabiyah.

Jadi ashabiyah termasuk nasionalisme adalah faham jahiliyah yang dihapus oleh Islam. Ikatan kesukuan dan kebangsaan diganti dengan ikatan akidah. Sejak Negara Islam pertama berdiri di Madinah, umat Islam tidak pernah membangun negara berdasarkan ashabiyah atau nasionalisme. Maka negara Islam tidak seperti negara bangsa yang memiliki batas yang fixed, tapi terus meluas dan berkembang.

Nasionalisme ini sebenarnya konsep yang baru dan asing. Selama lima belas abad usia umat Islam, kurang dari satu abad umat Islam pakai nasionalisme. Berawal dari runtuhnya khilafah Turki Utsmani pada tanggal 3 Maret 1924, serta masuknya penjajah Barat yang mencabik-cabik wilayah umat Islam. Sampai akhirnya mereka masing-masing memerdekakan diri, menjadi negara kecil-kecil yang saling asing satu sama lain. Padahal awalnya satu.

Pernahkah kita bertanya mengapa ada nasionalisme? Nasionalisme hadir di dunia Islam, termasuk Indonesia, akibat penjajahan. Mengapa ada wilayah bernama Indonesia, Malaysia, Brunei? Mengapa ada Mesir, Yordan, Turki, Lebanon, Syria, Iran, Irak? Apakah batas-batas kedaulatan negeri-negeri tersebut jatuh dari langit sebagai sebuah takdir politik?

Batas-batas negeri bukanlah takdir dari Allah SWT, tapi hasil konsensus manipulatif penjajah. Mereka menjajah lalu membagi-bagi wilayah tersebut kepada rekan-rekan mereka sesama penjajah.

Batas-batas kedaulatan Indonesia dan Malaysia merupakan hasil konsensus penjajah Belanda dan Inggris. Demikian pula batas-batas negara-negara Timur Tengah, merupakan hasil konsensus manipulatif penjajah negara-negara sekutu pemenang Perang Dunia I.

Pertanyaannya, jika batas-batas imajiner negara tersebut ternyata hanyalah hasil konsensus manipulatif penjajah yang pragmatis dan situasional, lantas mengapa sampai hari ini kita masih tunduk? Serta kita jadikan asas dan pedoman kita dalam bernegara? Bahkan menentukan siapa kawan dan lawan?

Sehingga pengungsi muslim Rohingya kita anggap imigran ilegal hanya karena bukan WNI? Atau muslim Malaysia kita anggap musuh hanya karena batik dan reog? Ketika Palestina atau Irak digempur habis-habisan kita cukup menanggapinya dengan mengatakan: Itu urusan dalam negeri mereka. Semua ini akibat bathilnya nasionalisme.

Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah termasuk golongan kami; siapa saja yang menyeru kepada ‘ashabiyyah. Dan bukanlah termasuk golongan kami, siapa saja yang berperang di atas ‘ashabiyyah. Dan bukan termasuk golongan kami, siapa saja yang mati di atas ‘ashabiyyah (nasionalisme).” [HR. Imam Abu Dawud]

Kita adalah muslim, sikap dan prinsip hidup kita tidak pernah didikte oleh konsensus manipulatif warisan penjajah. Apalagi yang namanya nasionalisme itu sangat situasional dan penafsirannya sangat tergantung kepentingan penguasa.

Pada tahun 1976, dengan alasan nasionalisme tentara kita berjuang menggabungkan Timtim dengan Indonesia. Tidak sedikit pejuang yang gugur, istri-istri jadi janda, anak-anak jadi yatim karena suami dan ayah mereka meninggal dalam integrasi Timtim. Tapi apa yang terjadi 24 tahun kemudian, Timtim lepas dengan restu pemerintah Indonesia.

Coba bayangkan, para pejuang integrasi Timtim ini telah berjuang pertaruhkan nyawa. Tapi akhirnya pengorbanan mereka sia-sia setelah Timtim lepas. Kegeraman veteran Timtim ini diekspresikan dengan membakar 350 lencana tanda jasa yang pernah diberikan negara kepada para janda dan keluarga pejuang.

Saat api unggun membakar lencana-lencana tersebut, salah satu janda veteran Ny. Elen Ramtung tak kuasa menahan tangis teringat suaminya yang hilang saat berjuang di Timtim.

And guess what siapa yang ikut menyerahkan kedaulatan Timtim? Yup. Si mamak banteng Megawati yang katanya nasionalis. Anda masih berfikir nasionalisme mulia dan layak diperjuangkan? Think again.

Tidakkah kita merasa aneh, bahkan cenderung naif, jika penjajah yang zhalim berhasil diusir, tapi bekas-bekasnya masih kita terima, membuat kita makin terpecah-belah, bahkan kita jadikan identitas berbangsa dan bernegara kita?

Tidakkah kita mau berfikir? Atau memang kita tidak perlu banyak berfikir dan cukup dirayakan dengan pesta pora serta lomba makan kerupuk dan lari karung saja? 

Saudaramu, @Pedyanto.

Categories: Uncategorized | Tags: , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: