Mati itu Pulang, Pulang itu Indah dan Menyenangkan


Menurut Komaruddin Hidayat, hakikat orang yang mati itu adalah pulang. Siapa yang tidak suka pulang, apalagi bertemu dengan Penciptanya yang dicinta. Pada dasarnya orang yang mati itu pada hakikatnya menuju kehidupan yang abadi di alam lain. Dalam Islam, jika ada musibah atau ada orang yang mati disebut dengan “innalillahiwainnailaihirojiun” (Sesungguhnya kita semua adalah milik Allah dan kita semua akan berpulang kepadanNya). Kalimat ini indah sekali, ketika para ulama mengatakan, bahwa ketika wafat itu tiba datangnya hari bahagia. Ibarat para petani akan menikmati hasil panen.

Bayangkan, kalau kita sebagai pekerja, hari yang ditunggu-tunggu adalah ketika tanggal gajian tiba. Jadi, kebahagian bagi orang yang meninggal itu, karena upahnya akan dilunasi. Itulah sebabnya, para ulama mengajarkan jangan takut meninggal.

Dalam hidup ini, peristiwan apa yang paling ditunggu-tunggu? Yaitu peristiwa pulang. Yang repot mau pulang tapi tidak tahu jalannya, tidak punya kendaraan. Bagi orang mukmin kaitannya dengan Iman. Kendaraan itu adalah amal kebaikan.

Masih ingat, ketika dulu kita sekolah, ada pengumuman,”Anak-anak hari ini Bapak dan Ibu Guru mau rapat. Anak-anak pulang lebih awal.” Bagaimana jawabnya? “Horeeeee..” Begitu pula ketika usai menunaikan ibadah haji badan terasa capai, begitu ada pengumuman akan pulang. Langsung yang capai menjadi segar kembali. Naik pesawat lemas kembali, dan ketika tiba di bandara Soekarno-Hatta kembali sehat. Langsung berpakaian haji lupa dengan rasa capainya. Karena apa? Karena pulang ke rumah.

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Ali Imran: 169-170)

Ketika mati nanti, kehidupan yang dialami pada saat hidup itu ibarat mimpi, bahwa kita pernah melakukan sesuatu, pernah pergi ke sana, ke sini pada saat hidup, semua terekam seperti mimpi.

dirangkum dari berbagai sumber.

Categories: Nafsiyah | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: