
Universitas Gadjah Mada, selasa 4 januari 2011, mengadakan stadium general dalam memperingati sejarah republik Yogyakarta dengan pemateri Prof. Suhartono Wiryopranoto, guru besar sejarah UGM. Peristiwa Republik Yogya adalah perpindahan pusat pemerintahan Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta. Periode itu berlangsung pada 4 Januari 1946-28 Desember 1949. Kuliah umum yang bertempat di gedung pusat kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri UGM yang diikuti beberapa undangan untuk guru-guru SMA, beberapa guru besar UGM, pihak keraton Yogyakarta dan masyarakat umum bertujuan untuk mendudukkan kebenaran sejarah secara akademik. Diharapkan, hasilnya akan memberi pencerahan terhadap keistimewaan DIY yang sempat menjadi polemik beberapa waktu terakhir. Terkait RUUK keistimewaan DIY, ketika ditanya apakah memilih penetapan atau pemilihan, Prof. Suhartono yang juga penulis buku “Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan “Republik Yogya” menegaskan terkait masalah penetapan dan pemilihan ini bukan forumnya, tren yang ada saat ini adalah tren Demokrasi, tetapi dalam demokrasi ada eksepsi-esksepi yang harus diperhatikan, seperti kearifan lokal. Beliau juga menjelaskan sejatinya UGM sejak tahun 50-an menyiapkan para Elite, elite berasal dari kata Litere, yaitu orang yang mampu membaca yang tertulis dan tidak tertulis dan UGM adalah sebagai kawah candra dimuko nya para mahasiswa
Suasana sedikit riuh ketika Roy Suryo anggota DPR dari partai Demokrat memperkenalkan diri ketika usai bertanya. Roy yang juga mempunyai darah biru keraton tersebut berkata : Justru saya tak akan mundur dan tetap memperuangkan penetapan di pusat. Suasana semakin riuh sejenak, para peserta ada yang mengomentari, Lanjutkan!, ada pula yang berbisik kepada kawannya “kosek belum balik modale ndak rugi”
Filed under: Reportase Tagged: | prof suhartono, republik yogya, roy suryo, sejarah






