Ghaflah (Lalai)

      Berikut adalah cuplikan buku dari Khalid A. Mu’thi Khalif berjudul Nasihat untuk Orang-orang Lalai terbitan Gema Insani Press.
Ghaflah adalah salah satu penyakit yang paling berbahaya yang menimpa individu dan umat. Ia adalah penyakit yang amat membinasakan, yang membunuh kebaikan dan penghancur semangat. Kata aghfala asy-syai’a wa ahmalahu adalah satu makna (hal ini jika ia melalaikan sesuatu dan melupakannya karena tidak mengingatnya). kata ghafala ‘anisy-sya’i ghaflatan bermakna melupakannya karena kurang mengingatnya dan kurang sadar serta dalam keadaan lalai. Aghfalasy syai’a bermakna membiarkannya tersia-siakan tanpa terlupakan. Taghaafala bermakna sengaja melupakan atau pura-pura lupa. kata istaghfalahu bermakna menilainya lalai dan kelalaiannya terlihat. Mughaffal adalah orang yang tidak mempunyai kecerdasan.

      Dengan demikian, ghaflah adalah kata yang di bawahnya termasuk semua hal yang tidak mencapai tingkat kesempurnaan karena sibuk atau menyibukkan diri dengan apa yang lebih rendah dari itu.

     Al Qur’an membicarakan fenomena ini dalam banyak tempat. Sepertu dalam firman Allah swt.,
وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“..Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaanya itu melewati batas.(al-Kahfi:28)

      Sayyid Quthb berkata, “Mereka tidak membuka hati mereka yang telah dianugerahkan kepada mereka agar mereka memahami. Padahal, bukti-bukti keimanan dan petunjuk tampak jelas dalam wujud dan risalah-risalah yang ditangkap oleh hati yang terbuka dan pandangan yang tertutup.

Mereka tidak membuka mata mereka untuk melihat ayat-ayat semesta yang Allah hamparkan dan mereka tidak membuka telinga mereka untuk mendengarkan ayat-ayat Allah yang dibacakan. mereka telah menonaktikan perangkat yang telah dianugerahkan kepada mereka dan tidak menggunakannya dengan seharusnya. Sehingga mereka hidup dalam keadaan lalai dan tidak ber-tadabbur.

Sikap lalai merupakan suatu perlakuan yang salah terhadap segenap potensi dan energi yang ada. Tentunya sikap seperti ini sama sekali tidak memberikan faedah, malah membahayakan dan membinasakan. Al-Qur’anul Karim menegaskan rusaknya kecenderungan seperti ini dan menamakannya sebagai kelalaian. Allah swt. berfirman,

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” : (ar-Ruum:7)

Ia memperhatikan urusan-urusan dunianya dengan mengalahkan akhiratnya. Dalam urusan dunia ia amat pandai dan senang berkompetisi, sedangkan dalam urusan akhirat ia adalah sosok yang lalai dan gagal.

“Ia senang dengan dunia dan menyia-nyiakan agamanya dan tidak ada di rumahnya yang tersia-siakan.”

  • Kelalaian itu bisa terjadi karena perilaku yang tidak sadar akibat dari faktor-faktor sebelumnya. Misalnya banyak dosa, terbiasa melakukan kemaksiatan, rusaknya lingkungan dan berteman dengan orang-orang lalai. Semua hal ini bisa membuat seseorang lalai, yang dapat mengantarkannya menjadi tidak merasakan lalai yang terjadi pada agama dan dunianya.
  • Sengaja lalai dan memilih untuk lalai dengan sadar. Hal ini ia lakukan karena berzikir dan terjaga itu asing bagi kebiasaan jiwanya yang sakit serta berkuasanya hawa nafsunya yang buta. Seperti orang yang mabuk yang tak ingin sadar dari mabuknya, ia tak memikirkan apapun.
  • Kelalaian itu Bisa pula terjadi karena direncanakan oleh pihak lain, yang ditujukan untuk mengamankan ketundukannya kepada pihak lain itu atau untuk mendapatkan sesuatu yang tidak mungkin didapatkan jika pihak yang lalai itu tersadar. Ini adalah yang dinamakan proses pelalaian. Contohnya, seperti tindakan setan yang melalaikan manusia sehingga manusia berjalan di belakang setan itu bagai kucing buta. Juga seperti tindakan musuh-musuh Islam yang sengaja membuat kaum muslimin lalai terhadap kondisi kekiniannya serta masa lalunya untuk menjamin ketundukan kaum muslimin terhadapnya dan mengambil kekayaannya.
    Sebagai penutup, berikut jenis-jenis kelalaian yang menjadi pembahasan dari buku ini:
  • Orang yang tidak mengetahui kondisi hatinya, apakah sakit atau sehat, adalah orang yang lalai
  • Orang yang tidak hati-hati terhadap tipu daya seta adalah orang yang lalai
  • Orang yang menyia-nyiakan usianya secara tidak berguna adalah orang lalai
  • Orang yang tidak mau mencapai hal-hal yang tinggi dan senang dengan perkara yang rendah adalah orang lalai
  • Orang yang tidak memperhatikan rencana musuh terhadap umatnya adalah orang lalai
  • Orang yang sengaja buta terhadap kebenaran dan terus tenggelam dalam kebatilan adalah orang buta
  • Orang yang membiarkan musuhnya untuk menuntunnya kepada yang tidak ia ketahui adalah orang lalai

Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang lalai
إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ آيَاتِنَا غَافِلُونَ  ,أُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمُ النَّارُ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.” (Yunus: 7-8)

Mati itu Pulang, Pulang itu Indah dan Menyenangkan

Menurut Komaruddin Hidayat, hakikat orang yang mati itu adalah pulang. Siapa yang tidak suka pulang, apalagi bertemu dengan Penciptanya yang dicinta. Pada dasarnya orang yang mati itu pada hakikatnya menuju kehidupan yang abadi di alam lain. Dalam Islam, jika ada musibah atau ada orang yang mati disebut dengan “innalillahiwainnailaihirojiun” (Sesungguhnya kita semua adalah milik Allah dan kita semua akan berpulang kepadanNya). Kalimat ini indah sekali, ketika para ulama mengatakan, bahwa ketika wafat itu tiba datangnya hari bahagia. Ibarat para petani akan menikmati hasil panen.

Bayangkan, kalau kita sebagai pekerja, hari yang ditunggu-tunggu adalah ketika tanggal gajian tiba. Jadi, kebahagian bagi orang yang meninggal itu, karena upahnya akan dilunasi. Itulah sebabnya, para ulama mengajarkan jangan takut meninggal.

Dalam hidup ini, peristiwan apa yang paling ditunggu-tunggu? Yaitu peristiwa pulang. Yang repot mau pulang tapi tidak tahu jalannya, tidak punya kendaraan. Bagi orang mukmin kaitannya dengan Iman. Kendaraan itu adalah amal kebaikan.

Masih ingat, ketika dulu kita sekolah, ada pengumuman,”Anak-anak hari ini Bapak dan Ibu Guru mau rapat. Anak-anak pulang lebih awal.” Bagaimana jawabnya? “Horeeeee..” Begitu pula ketika usai menunaikan ibadah haji badan terasa capai, begitu ada pengumuman akan pulang. Langsung yang capai menjadi segar kembali. Naik pesawat lemas kembali, dan ketika tiba di bandara Soekarno-Hatta kembali sehat. Langsung berpakaian haji lupa dengan rasa capainya. Karena apa? Karena pulang ke rumah.

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Ali Imran: 169-170)

Ketika mati nanti, kehidupan yang dialami pada saat hidup itu ibarat mimpi, bahwa kita pernah melakukan sesuatu, pernah pergi ke sana, ke sini pada saat hidup, semua terekam seperti mimpi.

dirangkum dari berbagai sumber.

Siksaan Mengerikan di Hari Pembalasan

Tafsir QS al-Ghasyiyah [88]: 1-7)

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ *وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ *عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ (٣)تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً *تُسْقَى مِنْ عَيْنٍ آنِيَةٍ *لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إِلا مِنْ ضَرِيعٍ *لا يُسْمِنُ وَلا يُغْنِي مِنْ جُوعٍ *

Sudah datangkah kepada engkau berita (tentang) Hari Pembalasan? Banyak muka pada hari itu tunduk terhina; bekerja keras lagi kepayahan; memasuki api yang sangat panas (neraka); diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas; mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar (QS al-Ghasyiyah [88]: 1-7).

Surat ini dinamakan al-Ghâsyiyah, diambil dari kata yang terdapat pada ayat pertama surat ini. Surat yang terdiri atas dua puluh enam ayat ini termasuk Makkiyyah.1 Bahkan menurut asy-Syaukani, Ibnu ‘Athiyah, dan al-Alusi, tidak ada perbedaan pendapat tentang hal ini.2 Rasulullah saw. biasa membaca surat ini dan surat al-A’la pada saat shalat Id dan shalat Jumat. Dari Nu’man bin Basyir ra.:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقْرَأُ فِى الْعِيدَيْنِ وَفِى الْجُمُعَةِ بِ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ اْلأَعْلَى) و (هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ)

Rasulullah saw. membaca dalam shalat dua Id (Idul Fitri dan Idul Adha) dan shalat Jumat surat ‘Sabbihisma Rabbika al-‘Alâ’ dan  ‘Hal atâka hadîts al-ghâsyiyah’ (HR Muslim).

Continue reading

Beasiswa Alumni untuk Mahasiswa Hamfara

 

 
Alhamdulillah wassholatu wassalaamu ‘ala rosulillah. Berkat usulan dari Kang Azies Rahman, Ikatan Alumni STEI Hamfara (ILHAM) 07 (angkatan KKN ke-2 Th 2010, atau tahun kelulusan 2011) akhirnya membuat sebuah aksi kepedulian bagi adik-adik angkatan yang masih menjalani kuliah di STEI Hamfara. Aksi kepedulian itu berupa santunan/beasiswa bagi adik-adik kelas yang membutuhkan, bisa karena kurang mampu atau kurang mampu dan berprestasi. Kami berharap santunan yang tak seberapa ini dapat bermanfaat dan semoga kedepannya nilainya semakin bertambah dan tidak hanya sebatas santunan bagi adik angkatan, bisa juga untuk fasilitas umum kampus dan ma’had yang dapat dinikmati bersama dalam proses belajar mengajar. Allahumma aamiin…

Continue reading